pesantrenbanyumas.com

JA slide show
Selamat Datang di Jaringan Pesantren Banyumas
PENGUATAN IMAGE PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM ANTI TERORIS MELALUI PERANCANGAN WEBSITE PESANTREN PDF Print E-mail
Written by Ode Libertad   
Thursday, October 06 2011 23:13

PENGUATAN IMAGE PESANTREN

SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM ANTI TERORIS

MELALUI PERANCANGAN WEBSITE PESANTREN

Oleh :

Elis Puspitasari, Mintarti*, Abdul Rohman**, Hesti Susilawati***

------------------------------------------------------------------------------------

 ABSTRACT

This study aims to strengthen the image of pesantren as an anti-terrorist institution. Research using qualitative methods. Research sites in four districts in the ex-Residency Banyumas by taking eight pesantren. The research subject is determined by purposive sampling. Primary data collected through observation (observer as participant), in-depth interviews, FGDs and documentation for secondary data. Data analysis was performed with a model Interaktif Analysis. The validity of the data was done by using triangulated.

The results showed that pesantren were targeted research does not agree with the accusations as a hotbed of terrorists and no pesantren that teach terrorism. Jihad interpreted by the leaders of pesantren widely and contextual. Terrorism is considered as a form of action beyond the teachings of Islam and is contrary to Islam who rahmatan lil 'alamin and deemed heretical.

The conclusion of this study is not a nest of terrorists pesanrtren, because pesantren have never taught the terrorists understand. Terrorism is seen outside the teachings of Islam because doing kemungkaran and has damaged the image of Islam. Islamic Learning of an incomplete and narrow interpretation of jihad into a trigger acts of terrorism. Through the website of pesantren www.pesantrenbanyumas.com, socialization and training to strengthen the design of the website re-image pesantren.

Suggestions from this study is the need to continue to be disseminated regarding the alignment and misguided understanding the meaning of jihad terrorists and support from all parties concerned. This effort in order to prevent and control the dangers of terrorism with a preventive model.

 

Key words: empowerment, image,pesantren

 

 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* Dosen Jurusan Sosiologi Fisip UNSOED

**Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fisip UNSOED

***Dosen Jurusan Teknik Elektro FST UNSOED

 

PENDAHULUAN

 

                Isu terorisme seperti tidak pernah lekang. Berganti pelaku, berganti cara, berganti lokasi dan berganti sasaran. Satu hal yang tidak berubah dalam aksi terorisme adalah alasan di balik tindakannya yang dilakukan atas nama agama (Islam). Simbol-simbol agama seringkali dijadikan legitimasi atas teror yang dibuat. Pelaku seringkali mengaku “pernah” menjadi santri atau ustadz di suatu pesantren. Akibatnya pesantren sampai sekarang masih terseret dalam aksi teror. Padahal tudingan dan klaim tersebut sangat bertentangan dengan citra pesantren yang telah ratusan tahun menjadi institusi pendidikan agama yang berkomitmen dan berkarter moderat, inklusif dan toleran atau anti teroris.

                 Belum ada counter bersama secara resmi dari pesantren-pesantren untuk menolak tudingan tersebut.  Terorisme agaknya sulit untuk diberantas, meskipun para tokohnya telah terbunuh dalam operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Densus 88. Hal ini berangkat dari asumsi terorisme sebagai ideologi. Rekrutmen anggota teroris baru melebarkan sayapnya pada anak-anak muda dan bukan hanya pesantren akan tetapi meluas ke perguruan tinggi (UIN Syarif Hidayatullah). Bukan hal yang mustahil jika dikemudian hari akan masuk ke perguruan tinggi umum dan sekolah-sekolah menengah atas (SMA).

                Model penguatan image pesantren yang berupa website pesantren www.pesantrenbanyumas.com,  merupakan pilot project bagi pesantren-pesantren lainnya di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Penelitian melakukan pengumpulan data melalui  diskusi kelompok terfokus (FGD) mengenai nilai-nilai yang menjadi komitmen pesantren dalam rangka meluruskan makna jihad dan sesatnya paham teroris sebagai upaya untuk menemukan formulasi makna jihad yang selama ini banyak disalah tafsirkan dan menjelaskan terorisme dalam pandangan Islam.

Sebagai bentuk penelitian terapan pada penelitian ini, dilakukan pelatihan perancangan website. Pelatihan perancangan website pesantren dimaksudkan untuk mengenalkan pesantren pada internet dan website dalam rangka mengembalikan citra pesantren melalui teknologi komunikasi terkini. Pelatihan dilaksanakan dengan mengundang seluruh pesantren sasaran penelitian dan pesantren-pesantren lainnya yang berminat.

Hasil FGD mengenai makna jihad dan sesatnya paham teroris disosialisasikan ke empat SMAN I di empat kabupaten di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas. Sebagai muara dari rangkaian kegiatan dalam penelitian ini adalah pembentukan Pesantren Information Centers. Pusat informasi pesantren ini diharapkan juga sebagai penguatan organisasi pesantren dan membantu koordinasi serta kerjasama antar pesantren.

Perumusan masalah untuk membuat konten website 8 pesantren sasaran penelitian ini adalah :  Bagaimana profil pesantren  (seperti sejarah berdirinya pesantren, elemen-elemen pesantren : meliputi pondok, masjid, kitab-kitab rujukan, santri, dan kyai – termasuk latar belakang pendidikannya) dan kurikulum serta jaringan pesantren.

Adapun perumusan dalam penelitian ini adalah :

a. Bagaimana nilai-nilai yang menjadi karakteristik dan komitmen pesantren seperti nilai-nilai moderat, inklusif dan toleran terlembaga di pesantren-pesantren sasaran penelitian ?

b. Bagaimana  website pasantren yang dapat menguatkan image pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam anti teroris direspon oleh pesantren-pesantren sasaran penelitian ?

c. Bagaimana pesantren merumusakan makna jihad yang selama ini dijadikan sebagai akar dari tindakan terorisme oleh para teroris ?

d. Bagaimana pandangan pesantren (Islam) terhadap terorisme ?         

Tujuan dari penelitian ini adalah :

a.   Mengidentifikasikan dan memetakan informasi-informasi berkaitan dengan profil pesantren, seperti sejarah berdirinya pesantren, elemen-elemen pesantren (meliputi pondok, masjid, kitab-kitab rujukan, santri, dan kyai – termasuk latar belakang pendidikannya), kurikulum dan jaringan pesantren.

b.   Mengidentifikasikan dan memetakan nilai-nilai yang menjadi karakteristik dan komitmen pesantren seperti nilai-nilai moderat, inklusif dan toleran.

c. Merancang website pesantren sebagai model penguatan image pesantren pada delapan pesantren sasaran penelitian.

d. Merumuskan makna jihad menurut pandangan para pimpinan pesantren

e. Mengkaji pandangan pesantren (Islam) mengenai terorisme.

 

Manfaat dari penelitian ini :

a.   Identifikasi dan pemetaan informasi-informasi berkaitan dengan profil pesantren bermanfaat bagi penyusunan database pesantren.

b. Website dari pesantren yang menjadi sasaran dalam penelitian ini akan menjadi media bagi pesantren dalam mengkomunikasikan pesantrennya pada dunia luar dalam membangun kembali citra pesanren.

c. Hasil rumusan mengenai makna jihad dan pandangan terhadap terorisme bermanfaat untuk disosialisasikan pada generasi muda agar memperoleh pemahaman yang benar mengenai jihad dan sesatnya terorisme.

d. Jaringan Website pesantren selanjutnya akan menjadi media bagi pembentukan Pesantren Information Center di Eks-Karesidenan Banyumas.  

e. Pusat informasi pesantren akan menjadi model penguatan organisasi pesantren dan membantu koordinasi dan kerjasama pesantren se Eks-Karesidenan Banyumas yang selama ini masih kurang optimal.

f. Dapat membantu menguatkan image pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam anti teroris.


 

METODE PENELITIAN

                Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (Yin, 1996).  Lokasi penelitian, baik pesantren maupun SMAN I adalah  : di Eks-Karesidenan Banyumas (Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara). Subjek penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling (Bungin, 2008). Subjek penelitian terdiri dari para kyai pimpinan pesantren, pengajar, pengurus atau pengelola   pesantren,  para santri    senior   dan yunior,  Pimpinan    Asosiasi    Pesantren    Seluruh    Indonesia Cabang       Banyumas      (RMI),  Pimpinan    Badan Kerajasama  Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI), pihak terkait dari Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas,      Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Banyumas dan Pimpinan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Banyumas. Data primer dikumpulkan melalui observasi (observer as participant), wawancara mendalam, Focused Group Discussion (Bungin, 2001) dan dokumentasi untuk data sekunder. Analisis data dilakukan dengan model Analisis Inetraktif (Milles dan Haberman, 1992). Validitas data akan dilakukan dengan teknik  Triangulasi (Moleong,1994)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Eks-Karesidenan Banyumas. Karesidenan Banyumas atau Eks-Karesidenan Banyumas adalah wilayah pemerintahan masa Hindia-Belanda yang  meliputi Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banjarnegara. Pada masa sekarang, wilayah kerja dan jabatan setingkat residen  sudah tidak ada lagi. Ke-empat kabupaten ini memiliki kesamaan kultur termasuk dialek bahasa Banyumasannya.

Pemilihan lokasi penelitian berdasar atas pengembangan penelitian  sebelumnya yang hanya meliputi Kabupaten Banyumas. Ke-empat kabupaten tersebut dalam catatan peristiwa terorisme sempat  terkait karena pernah terjadi penangkapan pelaku di Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, sedangkan Banjarnegara sempat disinggahi oleh seseorang yang dicurigai terlibat dalam jaringan teroris.

Data lain diungkap dari pengumuman pemerintah bahwa terdapat 16 pesantren di Jawa Tengah yang akan menjadi wilayah garapan Jamaah Islamiah (JI). Hal ini diperkuat oleh dokumen yang ditemukan Polda Jawa Tengah yang diantaranya menyebutkan bahwa jaringan Jamaah Islamiah akan merekrut dan membina ratusan pesantren dan ulama di Jawa Tengah.  Tercatat 141 pesantren dan 388 tokoh di sejumlah wilayah yang masuk dalam daftar dokumen tersebut (Suara Merdeka, 8 Agustus 2003). Berdasar peristiwa terjadinya penangkapan dan pernah singgahnya pelaku teroris di Eks-Karesidenan Banyumas, bukan hal yang mustahil empat kabupaten tersebut menjadi bagian dari wilayah garapan para teroris. Oleh karena itu mengangkat wilayah ini sebagai lokasi penelitian menjadi hal yang urgen.

Di Jawa Tengah sendiri berdasar data dari Bagian Perencanaan dan Data – Setditjen Pendidikan Islam – Depag RI, (2007/2008) terdapat 3.719 pesantren. Di Kabupaten Banyumas terdapat 119 pesantren, di Cilacap 168 pesantren, di Purbalingga 67 pesantren dan di Banjarnegara 113 pesantren. Secara umum pesantren-pesantren tersebut berada dalam tradisi organisasi besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi yang mewarnai pesantren tersebut lebih bersifat moderat, sehingga dapat dikatakan jauh dari pengajaran paham terorisme. Delapan (8) pesantren yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah :

 

Tabel 1.  Pesantren-pesantren Sasaran Penelitian

No

Nama Pesantren

Tahun Berdiri

Kategori

Nama Pimpinan

Alamat

1.

 Api Salaf

1970

 

Tradisional

KH. Imam Turmudi

Dawuhan Kulon, Kedungbanteng

2.

Al Hidayah

1986

Modern

Dra. Hj. Nadhiroh Noeris

Karangsuci, Purwokerto Utara

3.

Assalafiah Al Fallah

1992

Tradisional

K.H. Munawir Hasyim

Jl. Pamugaran No. 3 Sampang Cilacap

4.

Al Ihya Ulumaddin

1925

Modern

KH. Chasbullah Badawi

Desa Kesugihan Kidul, Kesugihan,

5.

Darussalam

 

1983

Tradisional

KH. Abdul Ghofur

Arifin

Jl. Masjid Barokah, Kembaran, Cipawon, Bukateja

6.

Nurul Huda

 

1992

Modern

K. Ali Mubarok, S.Pd.I

 

Karangreja,

RT. 01/RW.08,

Kutasari

7

Alfalah Joyokusumo

1971

Tradisional

KH. Slamet Riyadi

Jl. S. Parman, Parakancangga, Banjarnegara,

8

Tanbihul Ghofilin.

1954

Semi Modern

K.H. Muhammad Hamzah Hasan

Jl. Gunung Tampomas Km.7 Bawang

Sumber : Bagian Perencanaan dan Data – Setditjen Pendidikan Islam – Depag RI, 2009 (infodiknas.com)


2. Nilai-nilai Moderat, Inklusif dan Toleran sebagai Karakteristik dan Komitmen yang Terlembaga di Pesantren

 

                Dari delapan pesantren sasaran penelitian hanya satu pesantren yang bukan berhaluan NU, yaitu pesantren Nurul Huda. Pesantren Nurul Huda mengambil model gerakan Al Irsyad sebagai warna pesantrennya. Baik NU maupun Al Irsyad sebagai payung dari pesantren-pesantren sasaran penelitian, keduanya memiliki nilai yang dapat dikatakan sama sebagai pesantren yang moderat, inklusif dan toleran. Nilai-nilai tersebut dikembangkan dalam praktek keseharian dalam kehidupan pesantrennya.               

Istilah moderat merupakan istilah modern atau masa kini. Dalam konsep Islam disebut wasathan, atau umat pertengahan. Allah SWT telah menyatakan dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 bahwa peran yang harus dimainkan Islam, yaitu sebagai ummatan wasathan (umat yang serasi dan seimbang). Pondok pesantren sebagai mainstream dari pendidikan Islam menjadi harapan bagi terwujudnya pembumian nilai-nilai dan wajah Islam moderat di Indonesia.

Moderat dalam Islam bisa dilihat dari sikap berada di tengah terhadap ajarannya yang berupa akidah, ibadah, akhlak, ruhani-materi, hukum, dan privat-publik. Moderat di dalam Islam berarti adil dan istiqamah tanpa berpihak kepada salah satu hal seraya mengorbankan hal yang lain.

Nilai-nilai moderat yang disemai di pesantren dapat tercermin dalam penyikapan terhadap modernisasi termasuk ilmu pengetahuan. Modernisasi dan ilmu pengetahuan akan diterima sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Moderat juga tercermin pada sikap yang tidak ekstrem atau condong untuk menolak hal yang berbeda dengan dunia pesantren. Menurut Bashori (pengelola pesantren Darussalam Kediri, dalam Kompas, 8 November 2005), pesantren berpegang pada kaidah “al-muhafazhatu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil aslah” (memelihara tradisi yang baik dan menerima sesuatu yang baru yang lebih baik).

Nilai inklusif merupakan sifat yang menghargai keberagaman, baik dari segi suku, agama, golongan, gender, dan asal-muasal sehingga mau terbuka dan bergaul dengan semua manusia meskipun memiliki latar belakang yang berbeda. Inklusif sesungguhnya merupakan ajaran atau konsep yang sangat positif bagi peneguhan kembali pilar-pilar persatuan dan kebangkitan suatu bangsa.

Nilai-nilai inklusif yang dikembangkan di pesantren antara lain tercermin dari pesantren yang terbuka mau menerima santri dari latar belakang aliran Islam yang manapun, asalkanapi nn Nahdlotul Ulama ()kembangkan di PP API Salaf antaralain tercermin dari PP API Salaf sangatngi kehormatan wanita sendir mau serius belajar di pesantren. Kemudian nilai inklusif juga dapat terlihat dari usaha untuk terbuka berdialog dengan golongan umat muslim yang lain ketika ada perbedaan. Pimpinan pesantren berpandangan bahwa mereka adalah saudara seiman, selama mereka satu tujuan dalam hal keyakinan agama meskipun berbeda dalam beberapa amalan maupun pemikiran wajib dihormati dan dihargai.

Nilai toleransi sebagai fundamen dalam kehidupan beragama yang harmonis harus senantiasa disemaikan. Toleransi dalam konteks ini melihat perbedaan yang ada di dalam masyarakat sebagai rahmat Tuhan. Dalam konteks bernegara, dikenal Bhineka Tunggal Ika sebagai konsensus persatuan semua suku bangsa dan agama yang ada di Indonesia. Islam sebagai rahmatan lil alamin tidak boleh saling mengganggu. Islam menghargai perbedaan (termasuk perbedaan pendapat dengan madzab yang lain.

Pesantren mengembangkan nilai toleransi dengan didasarkan pada teks Al Quran seperti konsep Lakum diinukum waliya diin. Santri saling tolong menolong dalam kegiatan bersama.  Santri tidak diajarkan pendoktrinan harus menggunakan salah satu mazhab. Pesantren menerima semua perbedaan yang terjadi di tubuh umat Islam. Pesantren menerapkan empat konsep kunci yang ditetapkan Al Quran, yaitu : ” Adalah atau keadilan, Ihsan atau berbuat baik, Rahmah atau kasih sayang dan Hikmah atau bijaksana. Tak satupun dari konsep-konsep ini yang mendorong kekerasan (Singh, 2003).

 

3. Respons Pesantren terhadap Website Pesantren untuk Penguatan Image Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam Anti Teroris

 

Di era global seperti sekarang ini teknologi informasi menjadi sangat penting dan dibutuhkan dalam proses komunikasi. Tidak dipungkiri dunia Islam sangat tertinggal di bidang ini. Akibatnya ketika ada tudingan Islam sebagai sumber ajaran teroris,  umat Islam tidak dapat melakukan pembelaan.  

Pesantren sebagai representasi Islam saat ini tengah dihadapkan pada tantangan ganda. Tantangan dari eksternal pesantren dan dari internal pesantren sendiri. Bentuk tantangan eksternal pesantren antara lain derasnya tudingan dan stigma pesantren sebagai sarang teroris. Pesantren dituding, dikecam, dipojokkan dan dijadikan pihak tertuduh sehingga di mata dunia non-Islam dicitrakan sebagai tempat persemaian ideologi teroris. Tantangan internal bagi pesantren pada umumnya adalah mengingat kondisinya terkadang pesantren sulit untuk mengikuti perubahan, cenderung tertutup terhadap dunia luar dan kurang mengikuti perkembangan teknologi. Penguasaan teknologi utamanya informasi dan media masih kurang, sehingga ketika tudingan sarang teroris dialamatkan ke pesantren melalui media, pesantren tidak dapat berbuat banyak untuk melakukan counter.

Pesantren merespon dengan baik website pesantren www.pesantrenbabyumas.com. Hal ini terbukti dengan diresponnya pelatihan perancangan website pesantren oleh semua pesantren sasaran penelitian dan beberapa pesantren lainnya. Pelatihan perancangan website pesantren bertujuan untuk mengenalkan kepada pesantren tentang teknologi internet, yang melalui internet tersebut pesantren dapat mengenalkan dan mempromosikan dirinya kepada dunia luar dengan membangun website pesantren. Pelatihan perancangan website pesantren yang telah dilakukan sebagai rangkaian dalam penelitian ini bermuara pada penguatan image pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam anti teroris. Di samping itu dimungkinan untuk pembentukan jaringan pesantren Banyumas atau Forum Silaturahmi Antar Pesantren sebagai implikasinya.

Pelatihan ini sebagai dasar dari penelitian tahap selanjutnya yang merencanakan untuk membuat model Pusat Informasi Pesantren. Pusat Informasi Pesantren ini diharapkan berbasis dari pesantren-pesantren peserta pelatihan yang akan menjadi ‘motor’ bagi pesantren lainnya yang terdekat dan desa dimana pesantren berada. Hal ini mengingat adanya program pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme yang diprogramkan sampai tingkat desa. Rencana ini akan bersinergis dengan aparat pemerintah  dan institusi kepolisian.

 

4. Pandangan Pesantren mengenai Makna Jihad yang Sering  Dijadikan Akar dari Tindakan Terorisme

 

Pimpinan pesantren dan organisasi Islam tidak sepakat dengan konsep jihad yang diberikan oleh para teroris. Jihad dipandang oleh para teroris dengan sangat sempit dan tekstual dan tidak bersifat kontekstual, sangat bertentangan dengan Sirah Nabawiyah. Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam. Jihad dapat berarti sangat luas. Menurut Kimball (2003) Islam mengajarkan secara berulang-ulang, yang mesti diajarkan pemeluknya bukanlah jihad terhadap orang luar, melainkan jihad terhadap dirinya sendiri. Artinya, perang melawan segala hasrat egoisme dan dosa yang selalu menghuni diri manusia.

Terdapat perbedaan dalam memahami konsep jihad . Interpretasi dalam dunia sosial memang tidak bersifat tunggal. Multi-interpretasi adalah hal yang sangat wajar dalam dunia subjektif manusia. Sehingga ketika konsep jihad melahirkan multi-interpretasi di kalangan umat Islam sendiri maka kemudian terdapat pro dan kontra atas hasil interpretasi tersebut.

Dari hasil penelitian  terhadap konsep jihad dapat digolongkan ke dalam tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah :  Pertama, kategori jihad dengan arti literal yang dipahami sebagai berperang dan dari sini muncul istilah jihad sebagai bentuk kekerasan yang mendapat legalitas dari teks-teks Al Quran. Kedua, kategori jihad yang dipahami sebagai berperang melawan hawa nafsu. Ketiga, jihad dalam arti dakwah, lebih luas-serius atau bersungguh-sungguh dan bekerja keras.

Para pimpinan pesantren dan organisasi Islam yang menjadi informan memaknai jihad dalam ketiga kategori di atas. Untuk konteks kekinian makna jihad lebih ditekankan pada kategori yang ke dua dan ke tiga. Kategori jihad yang pertama sebagai tindakan berperang hanya akan dilakukan ketika umat Islam benar-benar mengalami ketertindasan dan menderita akibat ketidakadilan kaum kufar. MUI sendiri selama ini menghadapi hal yang dilematis karena adanya distorsi pemahaman atau pembelokan makna jihad. Oleh karena itu, MUI (dalam Muhammad, 2010) telah mengeluarkan fatwa sejak 2003 bahwa terorisme dan aksi bom bunuh diri haram dilakukan .

 

5. Pesantren Menolak Terorisme

                Para teroris bukanlah Islam karena nabi tidak pernah menggunakan kekerasan fisik untuk menghancurkan berhala. Tindakan teror tidak dibenarkan karena yang tidak salah menjadi korban. Islam mengharamkan membunuh (Qs. Almaidah, ayat : 32). Menurut para pimpinan pesantren, para teroris hanya menjelek-jelekan Islam dan tidak sesuai syariat dan Sunnah. Para teroris memiliki keyakinan dan tafsir sendiri yang dibuat secara subjektif. Pandangan pesantren terhadap para pelaku terorisme adalah karena mempelajari agama tidak secara sungguh-sungguh. Teroris adalah orang yang ilmunya sepenggal, karena terosisme itu suatu kemungkaran dan tak diajarkan di agama apapun.

Pesantren tidak ada yang mengajarakan terorisme. Apabila dikatakan bahwa teroris berasal dari pesantren itu hal yang tidak dapat dibenarkan, mereka (teroris) adalah orang yang belajar di pesantren tetapi tidak tuntas. Berdasar Al Qur'an dan Hadits dalam Islam tidak ada istilah teroris. Islam mengajarkan toleransi beragama, disebutkan dalam (Qs. Al Kafirun, ayat : 6) ” Lakum diinukum waliya diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Dalam pandangan pimpinan pesantren, teroris yang mengatasnamakan Islam ada kemungkinan ditunggangi kelompok yang ingin menghancurkan dan memecah belah Islam, sehingga  mereka bukanlah Islam.

Pesantren menolak terorisme, tidak sepakat dengan terorisme yang mengatasnamakan agama khususnya pondok pesantren. Karena hal ini mampu merusak citra Islam sendiri. Sejalan dengan para pimpinan pesantren sasaran penelitian,  Muntaqim (Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Maubtadien Bengkulu)  (dalam Muhammad, 2010) menyatakan pesantren manapun di Indonesia tidak pernah mendidik santrinya menjadi teroris. Tidak pernah ada hubungan antara teroris dan pesantren atau antara teroris dan Islam.            

 

6. Sosialisasi Hasil FGD sebagai Bentuk Upaya Pelurusan Makna Jihad dan Sesatnya Paham Teroris

                Hasil dari FGD  dijadikan materi sosialisasi ke SMAN I di Eks-Karesidenan Banyumas. Maksud dan tujuan sosialisasi adalah untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai konsep jihad dan sesatnya paham teroris. Berdasarkan perkembangan gerakan terorisme di Indonesia generasi muda tengah menjadi sasaran perekrutan teroris untuk menjadi “calon pengantin” atau suicide boomber. Siswa SMA adalah bagian dari generasi muda bangsa Indonesia yang perlu untuk mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar agar tidak salah dan menjadi sasaran perekrutan teroris. SMAN I di eks-Karesidenan Banyumaslah yang menjadi pilot project-nya.

                Kegiatan sosialisasi di SMA N I se-Eks Karesidenan Banyumas didahului  dengan perumusan hasil FGD dalam bentuk makalah, dituangkan dalam power point dan bulletin. Untuk mendekatkan tema sosialisasi dengan sasaran penelitian yang masih merupakan siswa SMA, maka di TOR sosialisasi diusung tema kecil : “Belajar dan Berprestasi adalah Jihad-ku, Terorisme? No Way!”. Sosialisasi juga menggunakan media film yang dibuat oleh tekhnisi penelitian ini.

                Film yang berdurasi sekitar lima belas menit merupakan hasil editing dari peristiwa terorisme  di WTC, di Perancis, Inggris, Bali dan statmen-statemen pelaku terorisme mengenai jihad dan terorisme. Pada durasi berikutnya menampilkan pandangan mengenai jihad serta petikan-petikan hasil wawancara tim dengan para generasi muda tentang jihad dan terorisme. Durasi paling akhir ditutup dengan gambaran mengenai belajar dan berprestasi sebagai bentuk jihad dari siswa.

                Sosialisasi berjalan dengan dinamis gaya siswa dengan dipandu oleh tim yang melibatkan teater Si Anak dari Fisip. Respon dari siswa sangat antusias terbukti dari dilontarkannya pertanyaan-pertanyaan yang cukup berbobot. Dalam sosialisasi dilakukan juga diskusi yang disertai dengan kuis, masing-masing siswa yang dapat menjawab pertanyaan mendapat doorprize. Karena keterbatan waktu tidak semua siswa yang menunjukkan jari dapat ditanggapi pertanyaannya. Pada akhir waktu sosialisasi dibagikan kuesioner post-test. Kuesioner baik pre-test maupun post-test dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pemahaman para siswa mengenai jihad dan terorisme. Siswa di samping memperoleh materi dari ceramah juga diberikan semacam bulletin tentang jihad dan terorisme yang telah dibuat oleh tim peneliti sebagai bentuk fisik dari materi ceramah.

 

SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan

a. Pesantren bukan sarang teroris, karena pesantren tidak pernah mengajarkan paham teroris. Terorisme dipandang di luar ajaran Islam karena melakukan kemungkaran dan telah merusak citra Islam serta bertentangan dengan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

b. Dari delapan pesantren sasaran penelitian hanya satu pesantren yang bukan berhaluan NU, yaitu pesantren Nurul Huda. Pesantren Nurul Huda mengambil model gerakan Al Irsyad sebagai warna pesantrennya. Baik NU maupun Al Irsyad sebagai payung dari pesantren-pesantren sasaran penelitian, keduanya memiliki nilai yang dapat dikatakan sama sebagai pesantren yang moderat, inklusif dan toleran. Nilai-nilai tersebut dikembangkan dalam praktek kehidupan keseharian pesantrennya.               

c. Website pesantren dipandang perlu dan penting dalam era informasi sekarang ini. Berkaitan dengan membangun kembali citra pesantren yang terlanjur dituding sebagai sarang teroris, media ini dapat menjadi fasilitas untuk melakukan counter terhadap tuding tersebut dan sebagai jaringan komunikasi antar pesantren.

 

d. Konsep jihad dapat digolongkan ke dalam tiga kategori. Pertama, kategori jihad dengan arti literal yang dipahami sebagai berperang dan dari sini muncul istilah jihad sebagai bentuk kekerasan yang mendapat legalitas dari teks-teks Al Quran. Kedua, kategori jihad yang dipahami sebagai berperang melawan hawa nafsu. Ketiga, jihad dalam arti dakwah, lebih luas-serius atau bersungguh-sungguh dan bekerja keras.

e. Pesantren menolak terorisme, tidak sepakat dengan terorisme yang mengatasnamakan agama khususnya pondok pesantren. Pesantren tidak ada yang mengajarakan terorisme dan telah  merusak citra Islam sendiri.

 

2. Saran :

a. Perlu untuk terus mensosialisasikan kepada masyarakat dan dunia bahwa pesantren bukanlah sarang teroris dan pesantren tidak pernah mengajarkan terorisme.

b. Pentingnya untuk selalu menggali dan menjelaskan bahwa sejatinya pesantren memiliki nilai-nilai yang anti teroris seperti nilai moderat, toleran dan inklusif. Pesantren terkadang kurang mau mengeksplorasi ke umat tentang nilai-nilai tersebut, sehingga pesantren terkadang terkesan sebaliknya.

c. Website pesantren agar dapat menjadi media bagi pesantren-pesantren dalam membangun citra dirinya di mata dunia. Perlu adanya dukungan terhadap fasilitas teknologi komputer, jaringan internet dan softskill bagi terselenggaranya pesantren yang melek teknologi informasi.

d. Sosialisasi mengenai makna jihad yang benar perlu terus untuk dilakukan kepada semua kalangan masyarakat agar tidak keliru menafsirkan jihad, karena sebenarnya jihad adalah konsep yang luas tidak dapat ditafsirkan hanya sebagai perang terhadap kaum kafir.

e. Pesantren dapat dijadikan basis dan garda terdepan dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme dengan bekerjasama dan melibatkan semua komponen bangsa, seperti masyarakat, desa dan aparat keamanan.

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia

 

Bungin,  Burhan, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif, RajaGrafindo Persada, Jakarta

 

Kimball, Charles, 2003,  Kala Agama Jadi Bencana, Mizan, Bandung

 

Kompas, Pesantren Jurang Modern dan Tradisional, 8 November 2005, PT. Kompas Media   Aksara, Jakarta

 

Milles, Mathew dan Haberman, 1992, Analisa Data Kualitatif, UI_Press, Jakarta

 

Moleong, Lexy J., 1994, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung

 

Muhammad, Ardison.,  2010, Terorisme, Ideologi Penebar Ketakutan, Liris, Surabaya

 

Permata, Ahmad Permata, 2006, Agama dan Terorisme, Muhammadiyah University Press,

                Surakarta

 

Singh, Nagendra KR., 2003, Etika Kekerasan dalam Tradisi Islam, Pustaka Alief, Yogyakarta

 

Suara Merdeka, 141 Ponpes di Jateng Menjadi “Target” JI, 8 Agustus 2003, PT. Suara Merdeka Press, Semarang

 

Yin, Robert K., 1996, Studi Kasus, Desain dan Metode, Rajawali, Jakarta


Last Updated on Thursday, October 06 2011 23:23
 
RINGKASAN PENGUATAN IMAGE PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM ANTI TERORIS MELALUI PERANCANGAN WEBSITE PESANTREN PDF Print E-mail
Written by Ode Libertad   
Friday, December 25 2009 05:27

Oleh: Elis Puspitasari n Tim


Pesantren distigma sebagai “sarang teroris". Stigma tersebut sangat bertentangan dengan citra pesantren yang telah ratusan tahun menjadi institusi pendidikan agama yang moderat, inklusif dan toleran.

Penelitian ini dalam jangka panjang bertujuan untuk menguatkan image pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam anti teroris. Target dari penelitian ini, pertama, menyusun profil pesantren, mengkaji nilai-nilai yang menjadi karakteristik dan komitmen pesantren yang akan disusun sebagai database dalam rancangan website pesantren. Kedua, merancang website pesantren. Ketiga, launching (meluncurkan) website pesantren. Penelitian akan menggunakan metode kualitatif. Lokasi penelitian di Kabupaten Banyumas mengambil 6 pesantren, terdiri dari 1 pesantren salaf-baru, 2 pesantren modern, 2 pesantren semi modern dan 1 pesantren tradisional. Subjek penelitian diambil dengan metode purposive sampling. Data primer dikumpulkan melalui observasi (observer as participant), wawancara mendalam, Focus Group Discussion dan dokumentasi untuk data sekunder. Analisis data dilakukan dengan model Analisis Inetraktif. Validitas data akan dilakukan dengan teknik Triangulasi. Seluruh data yang diperoleh dengan metode penelitian ini akan menjadi database dari content rancangan website pesantren.

Last Updated on Thursday, October 06 2011 23:31
Read more...
 
Menag Kutuk Aksi Bom Bunuh Diri di Solo PDF Print E-mail
Written by Ode Libertad   
Wednesday, September 28 2011 08:36

Menag Kutuk Aksi Bom Bunuh Diri di Solo

Minggu, 25 September 2011 14:22 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bom bunuh diri kembali terjadi di Solo, Jawa Tengah, pada Ahad (25/9). Bom itu meledak di sebuah gereja pada pukul 11.00 WIB.

Aksi itu pun dikutuk oleh Menteri Agama yang juga Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali, dalam pidato pelantikan kepengurusan baru PPP. "Mengutuk keras tindak kekerasan seperti itu. Tindakan itu merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji dan ditentang ajaran apa pun," katanya.

Ia meminta pihak kepolisian mengusut tuntas sampai ke akar, mengadili pelakunya, dan menghabiskan seluruh tindakan itu di Indonesia.

Menurutnya, tindakan kekerasan itu tidak akan sampai pada tujuan yang mereka cita-citakan. "Bahkan tindakan itu hanya akan menyebar ketakutan, penderitaan, dan kesengsaraan masyarakat," tegasnya.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Esthi Maharani
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 3

Poling

Pesantren adalah?
 

Yang Online

We have 9 guests online

Translate



Main Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/k1960134/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Statistik

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini102
mod_vvisit_counterKemarin154

Today: May 21, 2013


Countries

100%INDONESIA INDONESIA



Peta Pesantren

Having trouble viewing a location? Double click the area around it to zoom in.
Loading...
You are here  : Beranda